“Ayah lucu kayak badut!” ujar adikku yang terkecil.
Sakit hatiku mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil adik bungsuku yang belum mengerti apa-apa.
“Bagaimana kalau kita panggil saja ustaz badut!” teriak salah seorang anak yang duduk di pojok.
Warga kampung lain yang berkumpul di ruangan sempit ini tertawa
terbahak-bahak. Seperti itukah pandangan mereka terhadap ayahku? Aku
malu. Harusnya ayah tak melakukan semua ini. Cukup jadi seperti ayah
yang dulu, aku bahagia.
Aku meninggalkan para tetanggaku yang masih asyik menyaksikan
tayangan siraman rohani di televisi. Televisi ini baru datang ke rumahku
tadi siang. Orang yang mengantarkannya bilang televisi tersebut kiriman
dari ayah di kota. Di kampung ini, televisi memang masih menjadi barang
mewah. Orang yang memilikinya dapat di hitung dengan jari. Oleh karena
itulah, setelah mengetahui ada TV di rumahku, para tetangga datang
berbondong-bondong untuk menonton bersama.
Sejak ada TV, rumahku selalu ramai setiap malam karena para tetangga
sangat senang menyaksikan ayah yang berceramah di TV. Namun di siang
hari, rumahku kembali sepi. Aku membiarkan mereka begitu saja datang dan
pergi sesuka hati mereka. Aku bahkan tidak peduli jika mereka ingin
membawa TV itu pergi.
—
Aku bergeming dalam diamku. Sudah dua hari ini aku tidak keluar kamar
kecuali untuk hal-hal penting saja. Setelah mendengar bahwa ia akan
pulang aku jadi tidak berselera melakukan apa pun lagi. Untuk apa dia
pulang? Umpatku dalam hati. Aku bahkan tak sudi untuk menyambutnya.
Semua orang sibuk menata rumah sedemikian rupa hanya untuk menyambut
kedatangannya. Para tetangga seolah tak ada yang mau ketinggalan
menyumbang jejak kaki mereka di rumah ini. Rumahku siang hari ini
mendadak ramai seperti pasar tradisional yang baru buka.
Keesokan harinya, kampung ini benar-benar ramai, lebih ramai dari
upacara penyambutan kepala desa yang baru menjabat bahkan dari acara
pernikahan putri Pak Kades dulu. Ibu-ibu memakai kebaya terbaiknya yang
di setrika licin. Para pria tampak gagah dengan batiknya dan rambut
mengilap karena kelebihan olesan minyak jelantah. Aku sendiri tidak tahu
sejak kapan bapak-bapak di kampung ini punya baju batik. Aku juga baru
tahu bahwa para pemuda dan pemudi kampung ini juga bisa berdandan dengan
rapi. Anak-anak kecil nampak riang berkejaran dengan kawan
sepermainannya. Mereka berlari, berteriak dan menjerit bahkan ada yang
menangis karena pakaian yang baru dibelikan ibunya kotor terinjak-injak
anak lainnya. Pokoknya keceriaaan mereka hari ini melebihi susana
gembira menyambut hari raya.
Kalian tahu siapa yang sedang mereka nanti-nantikan? Bukan sang
presiden atau para menteri yang mereka tunggu-tunggu. Kalian tahu
sendiri kan bahwa ini bukanlah masa-masa kampanye. Pemilihan umum masih
jauh di depan mata. Jadi, tidak mungkin ada kunjungan semacam itu. Aku
tidak yakin jika kalian akan percaya jika kuberitahu siapa yang sedang
mereka tunggu. Aku juga sebenarnya malas untuk memberitahu kalian
mengenai hal ini. Ayahku. Ya, mereka sedang menunggu si Ustaz Badut itu.
Sekali lagi aku tegaskan bahwa mereka hanya menunggu seorang petani
yang sedang naik daun karena dakwah guyonannya. Ah, memang apa gunanya?
—
Selepas upacara penyambutan dan ramah tamah dengan warga kampung,
ayah masuk ke kamarku. Nampak kelelahan tergambar di antara
kerutan-kerutan di keningnya. Tapi aku sudah tak peduli.
“Ri, kok orang-orang manggil ayahmu ini Ustaz Badut ya? Lucu sekali, ayah jadi ingin tertawa,” ujarnya memulai pembicaraan.
Entah sengaja atau ia memang benar-benar tidak tahu, ia sungguh
membuka pembicaraan ini dengan kalimat yang salah. Ia menyebut dua kata
itu: Ustaz Badut. Dua kata yang paling ku benci sebagaimana aku membenci
orang yang mendapat julukan itu.
“Lucu? Tertawa saja jika itu memang lucu bagi ayah!” Teriakku sinis.
Ayahku nampak kaget dengan sikap ketusku. Ia terdiam. Aku menggunakan kesempatan ini untuk menumpahkan semua kekesalanku.
“Kau bukan ayahku. Ayahku tidak seperti ini. Ayahku adalah lelaki
sederhana yang selalu melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Ayahku
adalah guru bagiku dan guru bagi semua anak kecil di kampung ini. Ayahku
adalah yang mengajar alif ba ta dengan sabar tanpa pamrih. Ayahku
adalah petani yang tak pernah mengeluh meski bekerja di bawah terik
matahari. Ayahku tak pernah rela menjual agamanya demi uang. Dulu aku
bangga dengan ayah, tapi sekarang? Hhh, aku kecewa,” ujarku sinis.
Ayahku tetap membisu. Rupanya ia masih menunggu kata-kata berikutnya
dari mulutku. Ayah mengambil tempat di sisiku. Ia memandangiku cukup
lama sebelum akhirnya berbicara.
“Ayah tahu, tak ada alasan kuat ayah membela diri. Tapi kau tahu kan
masyarakat kita sudah bosan dengan ceramah yang disampaikan oleh para
ustaz yang intelek dengan titel mereka yang macam-macam itu. Lihatlah
tetangga kita! Kau tahu sendiri mereka mulai memilih-milih siapa yang
menyampaikan ceramah saat ada rencana pengajian. Mereka akan mencari
tahu dulu siapa yang akan memberikan ceramah. Jika penceramah adalah
kiai atau ustaz yang serius, maka majlis akan kosong melompong.
Sedangkan jika si ustaz itu menyampaikan ilmu agama sambil menyisipkan
lelucon mereka akan lebih tertarik sekalipun ustaz itu hanyalah orang
kampung seperti ayah.” Ujar ayah memberiku penjelasan.
Aku tetap tak bisa terima dengan alasan ayah tersebut. Bagaimana pun
juga ayah telah membuatku malu dengan julukan sebagai anak dari Ustaz
Badut.
“Oh, jadi ayah pikir mereka hanya akan mengaji jika para ustaz yang
senang membuat guyonan seperti ayah yang mengajari mereka. Begitu? Ayah
benar-benar telah berubah. Aku kecewa pada ayah!”
Sekali lagi kata ‘kecewa’ itu meluncur dari mulutku. Wajah ayahku
tertunduk lemas. Desisan lemah dari bibir hitamnya terdengar samar. Aku
benar-benar marah hingga tak bisa menahan emosi. Namun aku enggan
mengakui bahwa kali ini aku benar-benar telah kelewatan.
—
Sudah seminggu ini ayah tinggal di rumah dan selama itu pula aku
menahan mulutku untuk diam. Satu-satunya pembicaraanku dengannya hanya
pada hari itu, dan saat itu pun aku tak bisa mengontrol kata-kataku.
Lagipula aku pikir ayah lebih sibuk mengurusi tamu-tamunya. Bagaimana
tidak sibuk? Sepanjang hari, siang dan malam, orang-orang terus
berdatangan hanya untuk bertemu dengannya dan menyalami bahkan mencium
tangan buruhnya yang kasar.
Sore ini ia akan kembali ke kota. Aku sangat bahagia mengetahui kabar
tersebut. Di saat keberangkatannya, aku tidak berminat untuk
mengantarnya meskipun hanya sampai pintu. Aku bersikap seolah-olah hal
tersebut bukanlah hal yang penting. Bodo amat! Toh di luar sana sudah
banyak orang yang mengantarkannya dan mengelu-elukan namanya. Aku hanya
menatap kepergian lelaki itu, sang Ustaz Badut, dari balik jendela
kamarku dengan senyuman sinis. Ku lihat ia merangkul adik-adikku yang
asyik mengunyah gula-gula.
Selepas kepergiannya, aku keluar kamar untuk menyiapkan makan siang
bagi adik-adiku. Di atas meja makan, aku melihat selembar kertas
tergeletak. Ternyata sebuah surat. Untukku. Aku mengambilnya dan mulai
membacanya.
…
Teruntuk anakku tercinta,
Maafkan ayah, Nak. Maaf karena ayah telah membuatmu kecewa. Ayah pikir
semua yang ayah lakukan ini semua akan membuatmu bahagia dan bangga pada
ayah. Percayalah, ayahmu ini tak pernah berniat menjual agamanya. Ayah
masih seperti ayahmu yang dulu. Sekali lagi ayah mohon percayalah! Namun
sungguh ayah tak bisa berhenti. Sekali lagi kau harus percaya, ini
bukan karena harta maupun ketenaran. Ayah tak butuh ketenaran dan ayah
juga selama ini telah memiliki harta yang paling berharga: kau dan
adik-adikmu.
Ayah mengerti jika kau memang tak bisa menerima ayah seperti dulu
lagi. Ayah tetap bangga memiliki anak sepertimu. Hari ini ayah pergi,
karena ayah pikir ayah hanya akan membuatmu bersedih kecewa, dan marah
jika ayah terus berada di sampingmu. Sejujurnya, berat bagi ayah untuk
jauh dari kalian, kau dan adik-adikmu, apalagi saat ayah tahu bahwa apa
yang ayah lakukan ini telah mengecewakanmu. Ingatlah, ayah akan pulang
kapan pun kau butuh ayah.
…
Bodoh! Mengapa aku harus menyalahkan ayah dan membencinya? Siapa yang
membuatnya menjadi seperti ini? Aku mulai tersadar akan awal mula dari
semua ini.
Suatu malam ayah di undang oleh Pak Kades untuk menyampaikan ceramah
dalam acara selamatan pernikahan putri sulungnya. Dulu aku sangat senang
melihat ayah saat menyampaikan ceramah agama. Saat itu aku baru saja
melihat tayangan seorang polisi yang mendadak terkenal hanya karena ia
pura-pura menyanyi lagu India. Aku tertarik dan ingin membuat ayah
terkenal seperti polisi itu. Aku lalu meminjam handphone tetanggaku yang
ada kameranya dan merekam ayah saat menyampaikan ceramah agama malam
itu.
Keesokan harinya aku meminta tetanggaku itu untuk memasukkan rekaman
ayah ke dalam internet. Usaha isengku ternyata tidak sia-sia. Dua bulan
kemudian, ada orang dari stasiun televisi dan membuat kontrak dengan
ayahku untuk mengisi tayangan siraman rohani setiap malam. Setelah itu,
kehidupanku sebagai seorang anak Ustaz Badut pun dimulai.
Ah, benarkah ia seorang ustaz? Ustaz yang suka melawak? Ustaz badut?
Cerpen Karangan: Nurul Handayani
Facebook: http://www.facebook.com/nh.dyni
mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
dikutip dari: cerpenmu.com
Senin, 24 Juni 2013
[Cerpen Bahasa Inggris] A Silent Woman
She walked amid the crowd of people who are in the market. It was seen
there are some people who talk about the woman, one of them said, “Look
at that woman, she’s white and beautiful but unfortunately he had an
unhealthy body that is fat”. They laughed out loud when talking about
the beautiful woman. On the other hand, the woman looks with confidence
to walk and spread smiles to everyone around her. Due to the nature
friendly and polite that she had, a lot of people who love and
appreciate her. She’s also a very hardworking woman. When she went home,
she was not to rest directly. She did other chores such as sweeping,
mopping, washing dishes, washing clothes, and helped her mother to cook.
After completing the homework, time for her to relax while watching her favorite tv shows that is cartoon. Because the fun watching, she did not know that her mother called her to make tea. It made her upset, angry and approached Yuanita by saying, “You are already 25 years old, but you still watching a cartoon, until I called and you didn’t heard,” turning off the TV is being watched Yuanita. She just looked down and apologized to her mother. “You are already adult but you never willing to change your bad behaviour, well you have to make a tea for me now”, said her mother. Yuanita replied, “Yes Mom” ??as hse walked into the kitchen.
The incident made Yuanita sad and upset with her mother. Because she never gave enough time to watch her favorite cartoon. She then went to the room with a scowl, her friendly smile was gone instantly, and the tears wet in her white cheeks. In her grief, she recalled the same incident a few years ago. At that time, Yuanita already developing strategies to regulate some of the activities that should she do to be able to watch her favorite cartoon. All things already well at the begin. But when 30 minutes after the cartoon began, her mother told Yuanita to help her who was cooking. Yuanita which is cool to watch tv ignores her mother’s orders, because she had completed all homework which she is responsible. It made her angry and turned off the tv being watched Yuanita. She was forced to obey orders to help her mother cook in the kitchen. Because if not, she will get mad and totally forbidden to watch her favorite cartoon. The incident is still happening until now the cause Yuanita lamenting his bad luck. Just to watch the cartoon was difficult and full of struggle.
Christy was the younger sister Yuanita. She’s 5 years younger than her sister. She has a slender body where it is different from the body of her sister. Christy always get whatever she wants from her parents quickly and without the sacrifices. She also could do whatever she wanted without any restrictions whatsoever from her mother. Therefore, Yuanita felt that her mother treated her differently and unfairly. However, she just could silence her mother’s response to all treatments. Because she’s not chatty like her young sister who always say what she thinks. All the events that make Yuanita a quiet woman, aloof, and closed.
When Yuanita was study, she lived with his uncle. She is free from the shackles of her mother who always gave this command and that command. She can do whatever she wants. She was able to watch cartoon as much without her mother’s know. This she did about 4.5 years. In college, she began a relationship with a man, john, from other campuses are 1 year older than her. He has worked in a factory as a laborer. He has a very strong religious knowledge and understand the unseen. Because of his knowledge, he did bad things, witchcraft, against Yuanita and the purpose is to draining Yuanita’s family money. However, what John did, it is out of Yuanita’s know. Time after time, Yuanita’s money owned by john used up to pay the rent, pay for motorcycle loans, pay debts, and others. And she did not feel that strange things. Because Yuanita loved him, she did whatever John asked without her parent’s knowing it.
After graduating, she began working and living back with her mother. Over time, Miss Alya started treating Yuanita well. She could do anything and watch cartoon as much time not only at her uncle’s house but also her parents’ house. Yuanita very pleased with the change in attitude from her mother. However, hse still remains closed to her family especially Miss Alya.
After a while, Miss Alya is getting treated yuanita very well. She often buys gold jewelry to decorate Yuanita’s body to make it look more attractive and elegant. However, every time Miss Alya told Yuanita buy gold jewelry, gold jewelry as often as it is also missing. Yuanita always give the reason that gold jewelry is lost on the road when Miss Alya asked. She also often took the money without their parents’ knowing it. Because of these, Miss Alya started to suspect something was wrong with her ??son. She began to investigate how Yuanita’s life outside the home. Because of her perseverance, she can find out what happened to her son. Miss Alya told her son not to touch with John. Yuanita agreed and was not related to John at the time. But, a few days later her gold jewelry was missing again and make her mother angry and upset. So Miss Alya initiatives her son to go to the chaplain and the paranormal to heal her son. However, it can not change the bad habits of her who always took the money and gave her jewelry to John. Miss Alya was surrendered to sensitize heal of Yuanita that do not heal. Seeing that her mother was seriously ill, Yuanita realized and began to change her bad behaviour.
Several years later, Yuanita met a handsome man, a white, hard-working, and good. The man named Michael. Yuanita undemonstrative love him. After a long acquaintance, Michael apparently harbored the same taste with Yuanita. He was applying for and invite Yuanita to get married. They lives happy ever after.
Cerpen Karangan: Tri Septiarini
Facebook: fivers.rini@gmail.com/Tri Septiarini
dikutip dari: cerpenmu.com
After completing the homework, time for her to relax while watching her favorite tv shows that is cartoon. Because the fun watching, she did not know that her mother called her to make tea. It made her upset, angry and approached Yuanita by saying, “You are already 25 years old, but you still watching a cartoon, until I called and you didn’t heard,” turning off the TV is being watched Yuanita. She just looked down and apologized to her mother. “You are already adult but you never willing to change your bad behaviour, well you have to make a tea for me now”, said her mother. Yuanita replied, “Yes Mom” ??as hse walked into the kitchen.
The incident made Yuanita sad and upset with her mother. Because she never gave enough time to watch her favorite cartoon. She then went to the room with a scowl, her friendly smile was gone instantly, and the tears wet in her white cheeks. In her grief, she recalled the same incident a few years ago. At that time, Yuanita already developing strategies to regulate some of the activities that should she do to be able to watch her favorite cartoon. All things already well at the begin. But when 30 minutes after the cartoon began, her mother told Yuanita to help her who was cooking. Yuanita which is cool to watch tv ignores her mother’s orders, because she had completed all homework which she is responsible. It made her angry and turned off the tv being watched Yuanita. She was forced to obey orders to help her mother cook in the kitchen. Because if not, she will get mad and totally forbidden to watch her favorite cartoon. The incident is still happening until now the cause Yuanita lamenting his bad luck. Just to watch the cartoon was difficult and full of struggle.
Christy was the younger sister Yuanita. She’s 5 years younger than her sister. She has a slender body where it is different from the body of her sister. Christy always get whatever she wants from her parents quickly and without the sacrifices. She also could do whatever she wanted without any restrictions whatsoever from her mother. Therefore, Yuanita felt that her mother treated her differently and unfairly. However, she just could silence her mother’s response to all treatments. Because she’s not chatty like her young sister who always say what she thinks. All the events that make Yuanita a quiet woman, aloof, and closed.
When Yuanita was study, she lived with his uncle. She is free from the shackles of her mother who always gave this command and that command. She can do whatever she wants. She was able to watch cartoon as much without her mother’s know. This she did about 4.5 years. In college, she began a relationship with a man, john, from other campuses are 1 year older than her. He has worked in a factory as a laborer. He has a very strong religious knowledge and understand the unseen. Because of his knowledge, he did bad things, witchcraft, against Yuanita and the purpose is to draining Yuanita’s family money. However, what John did, it is out of Yuanita’s know. Time after time, Yuanita’s money owned by john used up to pay the rent, pay for motorcycle loans, pay debts, and others. And she did not feel that strange things. Because Yuanita loved him, she did whatever John asked without her parent’s knowing it.
After graduating, she began working and living back with her mother. Over time, Miss Alya started treating Yuanita well. She could do anything and watch cartoon as much time not only at her uncle’s house but also her parents’ house. Yuanita very pleased with the change in attitude from her mother. However, hse still remains closed to her family especially Miss Alya.
After a while, Miss Alya is getting treated yuanita very well. She often buys gold jewelry to decorate Yuanita’s body to make it look more attractive and elegant. However, every time Miss Alya told Yuanita buy gold jewelry, gold jewelry as often as it is also missing. Yuanita always give the reason that gold jewelry is lost on the road when Miss Alya asked. She also often took the money without their parents’ knowing it. Because of these, Miss Alya started to suspect something was wrong with her ??son. She began to investigate how Yuanita’s life outside the home. Because of her perseverance, she can find out what happened to her son. Miss Alya told her son not to touch with John. Yuanita agreed and was not related to John at the time. But, a few days later her gold jewelry was missing again and make her mother angry and upset. So Miss Alya initiatives her son to go to the chaplain and the paranormal to heal her son. However, it can not change the bad habits of her who always took the money and gave her jewelry to John. Miss Alya was surrendered to sensitize heal of Yuanita that do not heal. Seeing that her mother was seriously ill, Yuanita realized and began to change her bad behaviour.
Several years later, Yuanita met a handsome man, a white, hard-working, and good. The man named Michael. Yuanita undemonstrative love him. After a long acquaintance, Michael apparently harbored the same taste with Yuanita. He was applying for and invite Yuanita to get married. They lives happy ever after.
Cerpen Karangan: Tri Septiarini
Facebook: fivers.rini@gmail.com/Tri Septiarini
dikutip dari: cerpenmu.com
Sabtu, 15 Juni 2013
[Cerpen Persahabatan] Diary Terakhir Ghina
Diary Terakhir Ghina
Matahari baru saja menampakkan cahayanya, kini Aku segera pergi mandi dan berangkat ke sekolah idaman di kotaku, MTsN 1 Karang Jati nama sekolahku. Setelah sampai di sekolah, Aku melihat seorang anak dengan jilbab putihnya yang anggun. Kau taukah siapa itu? yaapppss, itu Ghina, sahabatku sejak kecil. Mama dan Papa Ghina adalah Sahabat kedua orang tuaku. Aku mempunyai sebuah grup di sekolah, namanya Three GIN (Ghina, Icha dan Nanda)
Tetapi langkah ku terhenti saat melihat Ghina sedang bercanda dengan Audrey dan Iffy. Aku merasa marah dengan Ghina, tapi bagaimanapun dia tetap sahabatku. Akhirnya Aku berjalan dengan sangat cepat.
Ternyata Ghina melihat Aku yang berjalan dengan sangat cepat.
“Hei icha, kok kamu cepat banget sih jalannya?”, tanya Ghina. “Gak apa-apa kok, Cuma pengen cepat-cepat ke kelas aja”, jawabku. “Haha, ya sudah kita ke kelas yuk! Bentar lagi masuk loh”, ajak Ghina. “Iya, kok gak biasa banget Audrey sana Iffy deket sama kamu?”, tanya ku “Oh, mereka lagi nungguin Zulfa. Tadi pas aku mau menjemput kamu di gerbang, Aku bertemu dengan mereka.. Jadi Aku bercanda bersama mereka.. Kamu gak marah kan Cha?” “Hmm, ya sudah deh” jawab ku “Hahaiya, ya sudah masuk kelas yuk!” ajak Ghina “Oke”
Ternyata Ghina melihat Aku yang berjalan dengan sangat cepat.
“Hei icha, kok kamu cepat banget sih jalannya?”, tanya Ghina. “Gak apa-apa kok, Cuma pengen cepat-cepat ke kelas aja”, jawabku. “Haha, ya sudah kita ke kelas yuk! Bentar lagi masuk loh”, ajak Ghina. “Iya, kok gak biasa banget Audrey sana Iffy deket sama kamu?”, tanya ku “Oh, mereka lagi nungguin Zulfa. Tadi pas aku mau menjemput kamu di gerbang, Aku bertemu dengan mereka.. Jadi Aku bercanda bersama mereka.. Kamu gak marah kan Cha?” “Hmm, ya sudah deh” jawab ku “Hahaiya, ya sudah masuk kelas yuk!” ajak Ghina “Oke”
Sesampai di kelas..
“Hello Ghina, Icha..”, sapa Nanda dengan senyum “Hello Nanda”, jawab Ghina “Hei, Ghina, Icha dan Nanda.. Segeralah duduk di bangku kalian masing-masing! Bu Ika sudah mau masuk tuh!”, perintah Zaki, Sang ketua kelas “Oke!”, jawab Kami bersamaan
“Hello Ghina, Icha..”, sapa Nanda dengan senyum “Hello Nanda”, jawab Ghina “Hei, Ghina, Icha dan Nanda.. Segeralah duduk di bangku kalian masing-masing! Bu Ika sudah mau masuk tuh!”, perintah Zaki, Sang ketua kelas “Oke!”, jawab Kami bersamaan
Pada saat istirahat..
“Pesan minuman yuk cha! Aku traktir deh”, ajak Nanda “Makasih ya Nanda”, kataku dengan lembut
“Pesan minuman yuk cha! Aku traktir deh”, ajak Nanda “Makasih ya Nanda”, kataku dengan lembut
Sepulang sekolah…
“Ghin, Aku sama Nanda ke rumah kamu ya? Boleh gak?”, tanya Aku dengan penuh harap “Gimana ya? Terserah kalian aja cha..”, jawab Ghina “Kalo gak boleh, gak apa-apa kok”, kata Nanda, sambil tersenyum kecut “Aku boleh tanya gak Ghin?”, kataku “Iya, boleh kok. Mau tanya apa sih?”, jawab Ghina “Ghina, kok akhir-akhir ini Kamu berubah?”, tanya Aku “Aku gak berubah kok nan, cha.. Aku masih seperti yang dulu”, kata Ghina “Benar kata Icha, Ghin.. Kamu gak seperti yang dulu. Dulu kita selalu belajar dan bermain bersama, tetapi Kamu sekarang sudah menjauh dari Aku dan Icha.”, kata Nanda dengan ketus “Ih, Aku masih Ghina yang dulu. Kalian aja yang jarang bermain bersamaku. Jadi Aku bermain bersama Audrey dan Iffy”, bentak Ghina “Lagipula kalo kamu gak mau lagi berteman dengan Aku dan Icha, gak apa-apa kok Ghin. Kamu kan juga masih punya Audrey dan Iffy”, kata Nanda sambil marah “Tapi cha, da.. Aku berteman dengan Audrey dan Iffy itu Cuma kebetulan doang kok” kata Ghina “Iya sudahlah, Kita pulang aja ke rumah masing-masing”, ajakku
Ghina dan Nanda pun mengangguk setuju.
“Ghin, Aku sama Nanda ke rumah kamu ya? Boleh gak?”, tanya Aku dengan penuh harap “Gimana ya? Terserah kalian aja cha..”, jawab Ghina “Kalo gak boleh, gak apa-apa kok”, kata Nanda, sambil tersenyum kecut “Aku boleh tanya gak Ghin?”, kataku “Iya, boleh kok. Mau tanya apa sih?”, jawab Ghina “Ghina, kok akhir-akhir ini Kamu berubah?”, tanya Aku “Aku gak berubah kok nan, cha.. Aku masih seperti yang dulu”, kata Ghina “Benar kata Icha, Ghin.. Kamu gak seperti yang dulu. Dulu kita selalu belajar dan bermain bersama, tetapi Kamu sekarang sudah menjauh dari Aku dan Icha.”, kata Nanda dengan ketus “Ih, Aku masih Ghina yang dulu. Kalian aja yang jarang bermain bersamaku. Jadi Aku bermain bersama Audrey dan Iffy”, bentak Ghina “Lagipula kalo kamu gak mau lagi berteman dengan Aku dan Icha, gak apa-apa kok Ghin. Kamu kan juga masih punya Audrey dan Iffy”, kata Nanda sambil marah “Tapi cha, da.. Aku berteman dengan Audrey dan Iffy itu Cuma kebetulan doang kok” kata Ghina “Iya sudahlah, Kita pulang aja ke rumah masing-masing”, ajakku
Ghina dan Nanda pun mengangguk setuju.
Esoknya, di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, Aku dan Nanda bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Zulfa
“Kita mau ke mana?”, tanya Iffy memotong pembicaraan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Pantai Alam, disana kan pemandangannya indah“, kata Ghina “Oke, Aku setuju dengan usul Ghina”, sambung ku “Baik, semuanya setuju kan kalo kita ke Pantai Alam?”, tanya Zaki “SETUJU!!!” jawab kami semua
Esoknya, Mereka bersiap-siap untuk pergi ke Pantai Alam..
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Zulfa
“Kita mau ke mana?”, tanya Iffy memotong pembicaraan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Pantai Alam, disana kan pemandangannya indah“, kata Ghina “Oke, Aku setuju dengan usul Ghina”, sambung ku “Baik, semuanya setuju kan kalo kita ke Pantai Alam?”, tanya Zaki “SETUJU!!!” jawab kami semua
Esoknya, Mereka bersiap-siap untuk pergi ke Pantai Alam..
“Semuanyaa! Ayo berbaris!! Kita akan segera menaiki mobil yang akan membawa kita ke Pantai Alam!”, perintah Zaki
Setelah sampai di Pantai Alam..
“Woww, pemandangannya sangat indah ya teman-teman”, kata Ghina “Menurutku tidak ada yang bagus disini, coba tadi kita pergi ke Danau Losari saja!!”, komentar Nanda “Hei, kemarin kan Aku sudah bertanya pada kalian. Siapa yang tidak setuju jika kita berlibur di Pantai Alam? Tetapi tidak ada yang menjawab”, kata Zaki dengan senyumnya yang pahit “Sudahlah, kita disini untuk bersenang-senang. Bukan untuk bertengkar!”, kata Audrey
Pada saat mereka berenang, Nanda menarik tangan Icha dan Ghina..
“Hei, apa maksud mu Nanda? Mengapa Kau menarik tanganku dan Ghina?” kataku tanpa senyum “Auww, sakit Nanda. Pelan-pelan donk!” kata Ghina “Aku hanya ingin memberi tau pada mu, Ghina! Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”, kata Nanda dengan bengis
Lalu Nanda pergi, Ghina pun segera mengikuti langkah Nanda dan ketika Ghina ingin menyebrang jalan, tiba-tiba ada motor yang berlaju dengan kecepatan tinggi. Dan Ghina pun di tabrak oleh seorang pengendara motor.
“GHINAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”, teriakku
Setelah sampai di Pantai Alam..
“Woww, pemandangannya sangat indah ya teman-teman”, kata Ghina “Menurutku tidak ada yang bagus disini, coba tadi kita pergi ke Danau Losari saja!!”, komentar Nanda “Hei, kemarin kan Aku sudah bertanya pada kalian. Siapa yang tidak setuju jika kita berlibur di Pantai Alam? Tetapi tidak ada yang menjawab”, kata Zaki dengan senyumnya yang pahit “Sudahlah, kita disini untuk bersenang-senang. Bukan untuk bertengkar!”, kata Audrey
Pada saat mereka berenang, Nanda menarik tangan Icha dan Ghina..
“Hei, apa maksud mu Nanda? Mengapa Kau menarik tanganku dan Ghina?” kataku tanpa senyum “Auww, sakit Nanda. Pelan-pelan donk!” kata Ghina “Aku hanya ingin memberi tau pada mu, Ghina! Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”, kata Nanda dengan bengis
Lalu Nanda pergi, Ghina pun segera mengikuti langkah Nanda dan ketika Ghina ingin menyebrang jalan, tiba-tiba ada motor yang berlaju dengan kecepatan tinggi. Dan Ghina pun di tabrak oleh seorang pengendara motor.
“GHINAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”, teriakku
Akhirnya Ghina pun di bawa kerumah sakit oleh Aku dan Nanda.
“Ini semua gara-gara Aku Cha, Kalau saja Aku tidak berlari, mungkin kejadiannya tidak begini”, kata Nanda sambil menahan air mata “Sudahlah Nanda, jangan sesali apa yang sudah terjadi. Karena tak ada gunanya menyesalkan semuanya.”, kata ku
“Ini semua gara-gara Aku Cha, Kalau saja Aku tidak berlari, mungkin kejadiannya tidak begini”, kata Nanda sambil menahan air mata “Sudahlah Nanda, jangan sesali apa yang sudah terjadi. Karena tak ada gunanya menyesalkan semuanya.”, kata ku
Esoknya, Aku dan Nanda kembali menjenguk Ghina. Tetapi sesampai disana, Ghina belum juga sadar, Aku memegang tangannya dan memeriksa nadi nya, ternyata nadi nya sudah tak berdetak lagi.
“GHINAAA, bangun Ghin. Kamu harus sadar! Maafin Aku Ghin kalau Aku ada salah sama Kamu selama ini, Ghin bangun!!!”, kata Nanda sambil menangis “Ghin, maafin yaa kalau Aku selama ini terlalu kasar sama Kamu. Maaf Ghin”, kataku sambil menahan tangis
Tiba-tiba Mama dan Papa Ghina sudah pulang dari Singapura.
“Selamat Jalan Teman!”, kataku dan Nanda “Love you, GHINA”, kata Mama Ghina sambil menangis “Nanda dan Icha sudah baca belum tulisan Diary terakhir Ghina?”, tanya Papa Ghina “Belum om, Aku boleh lihat gak?”, jawab ku “Ya, tentu”, jawab Papa ghina
Ini tulisan terakhir Ghina di Diary kesayangannya
“GHINAAA, bangun Ghin. Kamu harus sadar! Maafin Aku Ghin kalau Aku ada salah sama Kamu selama ini, Ghin bangun!!!”, kata Nanda sambil menangis “Ghin, maafin yaa kalau Aku selama ini terlalu kasar sama Kamu. Maaf Ghin”, kataku sambil menahan tangis
Tiba-tiba Mama dan Papa Ghina sudah pulang dari Singapura.
“Selamat Jalan Teman!”, kataku dan Nanda “Love you, GHINA”, kata Mama Ghina sambil menangis “Nanda dan Icha sudah baca belum tulisan Diary terakhir Ghina?”, tanya Papa Ghina “Belum om, Aku boleh lihat gak?”, jawab ku “Ya, tentu”, jawab Papa ghina
Ini tulisan terakhir Ghina di Diary kesayangannya
29 Juni 2012
Diary, hari ini aku merasa ada yang aneh. Aku berfirasat bahwa hari ini Aku akan pergi menghadap-Nya.. Jikalau hari ini Aku pergi. Aku ingin sekali Nanda dan Icha memaafkan ku. Aku sayang mereka?:” (Aku juga sayang Papa Mama dan Adikku. Tolong jaga mereka jika hari ini Aku memang harus meninggalkan mereka..
THREE GIN, FOREVER!
GHINA ALLYSA VALENCIA
LOVE NANDA DWI ANISA AND RISKA ALLYFA ZAHRA
Diary, hari ini aku merasa ada yang aneh. Aku berfirasat bahwa hari ini Aku akan pergi menghadap-Nya.. Jikalau hari ini Aku pergi. Aku ingin sekali Nanda dan Icha memaafkan ku. Aku sayang mereka?:” (Aku juga sayang Papa Mama dan Adikku. Tolong jaga mereka jika hari ini Aku memang harus meninggalkan mereka..
THREE GIN, FOREVER!
GHINA ALLYSA VALENCIA
LOVE NANDA DWI ANISA AND RISKA ALLYFA ZAHRA
Cerpen Karangan: Salwa Salsabila Rahman
Facebook: Salwa Salsabila Rahman
Facebook: Salwa Salsabila Rahman
Fakta-fakta Unik pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
Semua pasti sudah tahu dong kalo pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia telah membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namun tidak banyak yang tahu kalo ada fakta-fakta unik dibalik peristiwa bersejarah itu. langsung saja ini dia. Check this out!
1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.
‘Pating greges’, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. ‘Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!’, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…
2. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Dibuat Sangat Sederhana
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!
3. Bendera dari Seprai
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!
4. Akbar Tanjung Jadi Menteri Pertama “Orang Indonesia Asli”
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar ‘orang Indonesia asli’. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. ‘Orang Indonesia asli’ pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993)
5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).
6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, ‘Tahun Vivere Perilocoso’ (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film – dalam bahasa Inggris; ‘The Year of Living Dangerously’. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!
7. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan di Tempat Sampah
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.
9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.
dikutip dari Kaskus oleh suranibisa.blogspot.com
1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.
‘Pating greges’, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. ‘Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!’, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!
3. Bendera dari Seprai
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar ‘orang Indonesia asli’. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. ‘Orang Indonesia asli’ pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993)
5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).
6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, ‘Tahun Vivere Perilocoso’ (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film – dalam bahasa Inggris; ‘The Year of Living Dangerously’. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.
9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.
dikutip dari Kaskus oleh suranibisa.blogspot.com
Sabtu, 08 Juni 2013
[Cerpen Horor] Horor Mencekam
cerpen ini adalah cerpen horor karangan Alfred Pandie, meskipin ga terlalu serem (menurut saya), tapi gapapalah, saya posting biar blog saya rame.
Horor Mencekam
Jam dinding berbunyi menunjuk 08:23 malam.
Kamis-22-2012.
Malam ini sepi tanpa suara tawa yang ingin ku dengar.
Hujan malam ini menyisahkan rintik yang sepenuhnya belum berakhir.
Suara musik dari tv sengaja ku kecilkan takut mengganggu tetangga sebelah yang cerewet.
Malam ini sepi tanpa suara tawa yang ingin ku dengar.
Hujan malam ini menyisahkan rintik yang sepenuhnya belum berakhir.
Suara musik dari tv sengaja ku kecilkan takut mengganggu tetangga sebelah yang cerewet.
Aku minum lagi kopi di gelasku,
Siaran tv yang membosankan dan tak menarik.
Orang tuaku sedang sibuk perang di kantor, benar-benar membuatku tak bersemangat menunggu mereka adalah hal paling menyebalkan
Terpaksa aku sendiri di rumah memandang langit kosong,
Semuanya membuatku tak berselera untuk beraktivitas
Siaran tv yang membosankan dan tak menarik.
Orang tuaku sedang sibuk perang di kantor, benar-benar membuatku tak bersemangat menunggu mereka adalah hal paling menyebalkan
Terpaksa aku sendiri di rumah memandang langit kosong,
Semuanya membuatku tak berselera untuk beraktivitas
Sebuah suara orang bernyanyi dari arah gudang di ruang atas.
Suaranya pelan. Parau dan serak, tapi terdengar jelas.
Suaranya pelan. Parau dan serak, tapi terdengar jelas.
“lingsir wengi sliramu…
Tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo…
Wingojin setan kang tak utusi dadyo…
Sebarang wojo lelayu sebet…”
Suara nyanyi dengan nada pelan seperti sinden. Tapi sangat lembut.
Aku meraih senter di atas meja tv.
Berjalan menyusuri tangga dan aku telah berdiri di depan gudang asal sumber suara.
Aku meraih senter di atas meja tv.
Berjalan menyusuri tangga dan aku telah berdiri di depan gudang asal sumber suara.
Gudang ini adalah barang penyimpanan barang rongsokan yang masih layak pakai, sudah lama tidak ada yang mau membersihkannya. Sehingga jaring laba_laba dan debunya dapat membuat flu mendadak.
Aku menempelkan kupingku ke pintu, dan menutup mata mencoba merasakan suara dari dalamnya.
Suara nyanyinya makin jelas terdengar.
“lingsir wengi sliramu…
Tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo…
Wingojin setan kang tak utusi dadyo…
Sebarang wojo lelayu sebet…”
Suara yang sepertinya pernah ku dengar di sebuah film, tapi entah dimana sungguh aku ingat,
Sepertinya seorang wanita, mungkin 20 tahun ke atas, karena suaranya lembut sekali meski pelan. Dan saat mendengarnya aku seperti terhipnotis untuk bernyanyi mengikutinya, dan tubuhku bergerak mulai menari dengan sendirinya.
Aku tersadar saat dari arah ruang bawah suara orang memanggil namaku
Sepertinya seorang wanita, mungkin 20 tahun ke atas, karena suaranya lembut sekali meski pelan. Dan saat mendengarnya aku seperti terhipnotis untuk bernyanyi mengikutinya, dan tubuhku bergerak mulai menari dengan sendirinya.
Aku tersadar saat dari arah ruang bawah suara orang memanggil namaku
Di ikuti nyanyian yang hilang sekejap. Dan itu seperti ayahku dan ibuku yang baru pulang dari kantor,
Aku berlari menuruni tangga dan membuka pintu.
Aku terdiam sejenak, orang tua yang ingin ku lihat tak ada.. “lalu siapa yang memanggilku!!”
Aku hendak menutup pintu namun sebuah foto, dan kado kotak biru di hiasi pita di lantai menarik perhatianku
Aku hendak menutup pintu namun sebuah foto, dan kado kotak biru di hiasi pita di lantai menarik perhatianku
Aku membungkuk meraihnya.
Pada saat aku mengangkat kepalaku,
Sesosok wajah muncul dengan wajah ke bawah seperti merangkak di atas pintu,
Aku mencoba menarik napas dan ku paksakan melihat sosok itu.
Namun sosok itu tak ada.
Pada saat aku mengangkat kepalaku,
Sesosok wajah muncul dengan wajah ke bawah seperti merangkak di atas pintu,
Aku mencoba menarik napas dan ku paksakan melihat sosok itu.
Namun sosok itu tak ada.
“mungkin itu hanya halusinasiku, pikirku memungut foto dan kado sambil menutup pintu dan kembali ke dalam”.
Aku merebahkan diriku di sofa dan melihat foto di tanganku.
Aku membolak-balikannya karena tak ada gambar, hanya gambar putih kosong. Aku mngambil kaca pembesar dan aku dapat melihat sebuah bayangan wanita sedang menggendong anaknya meski tak nampak jelas karena cahaya.
Aku tersentak melempar foto itu saat dengan jelas ku lihat darah menyembur dari matanya di ikuti tawanya. Aku mengucek mata memastikan ini tidak nyata.
Aku tersentak melempar foto itu saat dengan jelas ku lihat darah menyembur dari matanya di ikuti tawanya. Aku mengucek mata memastikan ini tidak nyata.
Aku meraih kado dan menemukan beberapa barang.
Silet, gunting, sebuah bunga mawar merah dan sebuah kertas dengan tulisan yang tak karuan.
Silet, gunting, sebuah bunga mawar merah dan sebuah kertas dengan tulisan yang tak karuan.
“a.. Ku… Dat.. Ang me.. Nje.. Mputmu anak.. Ku…”
*wasti”.
“siapa wasti, namanya terasa asing bagiku, tapi foto ini sepertinya pernah ku lihat tapi entah di mana?”
Aku meringis tersentak kaget saat duri mawar menusuk jariku.
Darah menetes kencang
Aku berlari ke kamar mandi dan mencuci darah tanganku, belum sempat ku nyalakan kran air.
Terdengar nyanyian dari dalam pintu wc yang terletak beberapa meter dariku.
Darah menetes kencang
Aku berlari ke kamar mandi dan mencuci darah tanganku, belum sempat ku nyalakan kran air.
Terdengar nyanyian dari dalam pintu wc yang terletak beberapa meter dariku.
Aku mengangkat wajahku panik setengah mati. Saat wajahku berubah jadi seorang wanita lain saat ku melihat cermin. Aku melihat lagi untuk memastikan ternyata bayangan itu hilang.
Aku berjalan perlahan mendengarkan kembali suara nyanyian yang kadang meninggi dan perlahan kembali dari dalam wc.
Suaranya persis sinden.. Lembut dan serak membuatku terhipnotis untuk mengikuti lagu itu dan kepalaku terasa berat.
Tanganku bergerak sendiri menari-nari bergerak kesana sini tanpa sebab.
Sampai suara itu berhenti dan menghilang.
Kaki ku rasanya sakit sekali. Entah sudah berapa jam aku menari dengan lagu itu, yang membuatku tak bisa berhenti untuk menari karena di ulang terus menerus.
Kaki ku rasanya sakit sekali. Entah sudah berapa jam aku menari dengan lagu itu, yang membuatku tak bisa berhenti untuk menari karena di ulang terus menerus.
Aku berjalan pelan luka di tanganku hilang.
Foto, silet dan selembar kertas serta gunting, bunga mawar masih berserakan di atas sofa.
Tapi di sengaja atau tidak gelas yang sebelumnyaa di atas meja jatuh berantakan di atas lantai.
Yang jelas aku tak ingat menjatuhkannya, lalu siapa?
Foto, silet dan selembar kertas serta gunting, bunga mawar masih berserakan di atas sofa.
Tapi di sengaja atau tidak gelas yang sebelumnyaa di atas meja jatuh berantakan di atas lantai.
Yang jelas aku tak ingat menjatuhkannya, lalu siapa?
Aku duduk lemas dan meraih serta menyalahkn laptop di atas meja kerjaku
Ku mencari artikel mengenai lagu yang membuatku tak sadar untuk menari.
Beberapa saat lagu yang ku maksud berhasil ku dapat
“lingsir wengi sliramu…
Tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo…
Wingojin setan kang tak utusi dadyo…
Sebarang wojo lelayu sebet…”
Aku kaget sekali melihat apa yang tertera di layar.
“ini bukannya lagu pemanggil setan!! Lalu siapa yang menyanyikannya dari gudang dan juga wc?
Belum habis rasa penasaranku.
Lagu itu terdengar dari balik sofa,
Aku bisa merasakan dingin yang tiba-tiba menusuk merasuk ku hebat. Aku tak bisa berkata selain merasakan setiap detik yang terjadi padaku. Aku seperti membeku.
Lagu itu terdengar dari balik sofa,
Aku bisa merasakan dingin yang tiba-tiba menusuk merasuk ku hebat. Aku tak bisa berkata selain merasakan setiap detik yang terjadi padaku. Aku seperti membeku.
Aku bangkit berdiri menari serta bernyanyi dengan sendirinya. Sungguh di luar kehendak dan nalarku.
Sesosok wanita tiba-tiba muncul berlahan-lahan dari balik sofa dengan tubuh bergetar, rambutnya lurus sampai pinggang, matanya melotot keluar, dari mulutnya darah menetes dan aroma bau busuk mulai mengusik pikiranku.
Sebuah tangan menjalar dari kaki perlahan-lahan merambat di seluruh tubuhku.
Aku bisa merasakan nafasnya berhembus di kupingku.. Sentuhan dingin itu
Aku bisa merasakan nafasnya berhembus di kupingku.. Sentuhan dingin itu
Kaki ku terasa berat, jantungku memompa semakin kencang.
Lampu mulai berkelap kelip tak menentu. Di ikuti lagu yang inginku hentikann secepat mungkin.
Lampu mulai berkelap kelip tak menentu. Di ikuti lagu yang inginku hentikann secepat mungkin.
“lingsir wengi sliramu…
Tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo…
Wingojin setan kang tak utusi dadyo…
Sebarang wojo lelayu sebet…”
Ia bernyanyi membuat
Mataku berkunang-kunang dan tubuhku terasa berat untuk bergerak.
Mataku berkunang-kunang dan tubuhku terasa berat untuk bergerak.
Aku tak ingat apa-apa lagi selain terbangun dengan tubuh kedinginan di lantai. Di ikuti kepalaku yangg pusing dan berat.
Ayah dan ibuku sedang duduk di dekat tv. Tertawa dan bercanda ria. Entah sejak kapan mereka datang,
Aku mendekati dan bertanya tentang apa yang baru saja ku alami.
Tapi mereka terlihat aneh. Atau mungkin aku yang aneh?
Mereka tersenyum dengan tanpa ekspresi. Seperti mengangap aku tak ada, menyapaku pun tidak.
Mereka menatap dengan tatapan kosong, ibuku mengalihkan pandangan dan berlalu ke belakang.
Mereka menatap dengan tatapan kosong, ibuku mengalihkan pandangan dan berlalu ke belakang.
Ayahku menatapku dan bercerita dengan keringat mengalir di tubuhnya.
“apa kamu yakin dengan apa yang kamu lihat, mungkin itu arwah wasti. Kejadiannya 25 tahun yang lalu. Dia seorang sinden, cantik dan lembut tutur katanya. Aku jatuh cinta padanya dan itu terjadi sebelum aku mengenal ibumu sekarang. Tahukah kamu siapa ibumu yang sebenarnya. Dia adalah wasti. Bukan ibumu yang sekarang, dia adalah iblis dia telah membunuh wasti dan memutilasinya, aku hanya membantunya karena waktu itu aku tak tahu lagi harus bagaimana, tubuhnya di potong dengan di silet dan di gunting lalu di buang.. Tubuhnya bersemayam di gudang itu dalam sebuah peti oleh formalin.. Ak…? Ayahku berhenti, tidak melanjutkan ceritanya”
“apa kamu yakin dengan apa yang kamu lihat, mungkin itu arwah wasti. Kejadiannya 25 tahun yang lalu. Dia seorang sinden, cantik dan lembut tutur katanya. Aku jatuh cinta padanya dan itu terjadi sebelum aku mengenal ibumu sekarang. Tahukah kamu siapa ibumu yang sebenarnya. Dia adalah wasti. Bukan ibumu yang sekarang, dia adalah iblis dia telah membunuh wasti dan memutilasinya, aku hanya membantunya karena waktu itu aku tak tahu lagi harus bagaimana, tubuhnya di potong dengan di silet dan di gunting lalu di buang.. Tubuhnya bersemayam di gudang itu dalam sebuah peti oleh formalin.. Ak…? Ayahku berhenti, tidak melanjutkan ceritanya”
Sebuah telpon mengalihkan ceritanya.
Aku bangkit mengangkat telepon.
Aku bangkit mengangkat telepon.
“halo dengan siapa saya bicara? Kataku”.
Aku terdiam terpaku, sebuah hal yang tak mungkin, aku di suruh ke rumah sakit karena orang tuaku mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Aku langsung melihat ayah yang sedang duduk di sofa, tidak ada apapun selain silet, gunting, kertas dan kotak merah yang memang berantakan.
Lalu siapa yang berbicara denganku barusan?
Aku langsung melihat ayah yang sedang duduk di sofa, tidak ada apapun selain silet, gunting, kertas dan kotak merah yang memang berantakan.
Lalu siapa yang berbicara denganku barusan?
Aku makin takut menjatuhkan gagang teleponku saat suara nyanyian yang tak asing ku dengar menggema di belakangku,
“lingsir wengi sliramu…
Tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo…
Wingojin setan kang tak utusi dadyo…
Sebarang wojo lelayu sebet…”
Wanita yang ku lihat di foto, sama seperti yang di ceritakan ayahku barusan. “wasti?… Ibuku…” sedang
Bernyanyi dengan merdunya, perlahan-lahan memaksaku. Perlahan menggerakan tubuhku,
Logika ku berpikir dan sebisa mungkin untuk bertahan,
Wanita itu makin bernyanyi kencang, air mataku serasa berubah jadi darah dengan urat wajah yang keluar.
Membuat seluruh tubuhku lemah tak berdaya, silet dan gunting melayang dengan sendirinya.
Bernyanyi dengan merdunya, perlahan-lahan memaksaku. Perlahan menggerakan tubuhku,
Logika ku berpikir dan sebisa mungkin untuk bertahan,
Wanita itu makin bernyanyi kencang, air mataku serasa berubah jadi darah dengan urat wajah yang keluar.
Membuat seluruh tubuhku lemah tak berdaya, silet dan gunting melayang dengan sendirinya.
Silet menyayat-nyayat tanganku dengan cepatnya, gunting menusuk pahaku beberapa kali. Rasa ngilu yang teramat sangat menjalar dan darah mengalir membasahi lantai dari tubuh. Aku seperti boneka.
Kesadaranku masih pulih,
Aku berlari menyeret kaki ku pelan. Berlari meraih korek dan membakar foto di meja, serta kertas dan kado.
Sang wanita yang bernama wasti, yang tak lain ternyata ibuku, melotot dan berteriak hilang di gelap malam.
Kesadaranku masih pulih,
Aku berlari menyeret kaki ku pelan. Berlari meraih korek dan membakar foto di meja, serta kertas dan kado.
Sang wanita yang bernama wasti, yang tak lain ternyata ibuku, melotot dan berteriak hilang di gelap malam.
Aku terjatuh menahan tubuhku yang tersayat perih. Dan pandanganku hilang
Aku mnghadiri pemakaman orang tuaku dan berlalu dengan borgol di tanganku. Aku menjadi saksi atas meninggalnya orang tuaku.
Orang-orang mengiraku gila dan memasukanku ke rumah sakit jiwa karena tuduhan kematian orang tuaku terhadapku,
Namun ku di bebaskan setelah apa yang ku ceritakan benar adanya.
Di sebuah peti pakaian di gudang, tubuh wasti tertumpuk. Telah mngeras bagai kayu oleh karena formalin.
Namun ku di bebaskan setelah apa yang ku ceritakan benar adanya.
Di sebuah peti pakaian di gudang, tubuh wasti tertumpuk. Telah mngeras bagai kayu oleh karena formalin.
Yang ku tahu sampai aku menyelesaikan kisah ini. Aku masih hidup setelah malam penuh teror yang membuatku hampir gila.
Tamat
Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie@yahoo.com
Pengen suatu saat bisa buat novel.
Facebook: alfredpandie@yahoo.com
Pengen suatu saat bisa buat novel.
Rabu, 24 April 2013
Inilah Keajaiban Matematika pada Al-Qur'an
Muslim Wajib Baca!
Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya. Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an. Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya. Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak. Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.
Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an
Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.
Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran
Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, www.islamicity.org
Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.
Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:
· Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(32/45)x100% = 71.11111111111%
· Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(13/45)x100% = 28.88888888889%
Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.
Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19
Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama. Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad. Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”. Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393. Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain. Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator). Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum[1] dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum. Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.
Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.
Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:
(74:30) Di atasnya adalah 19.
(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:
- cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,
- meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),
- memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,
- menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan
- menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.
(74:32) Sungguh, demi bulan.
(74:33) Dan malam ketika berlalu.
(74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.
(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.
(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.
Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.
Mengapa 19?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.
Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.
* 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”
* 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).
* Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19
“La – Ilaha – Illa – Allah”
Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut
“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”
Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.
Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:
(1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.
(2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.
(3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.
(4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.
(5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat
(6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.
(7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.
(8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.
(9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.
(10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)
Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran
No. Kata Frekuensi muncul
1 Ism 19
2 Allah 2698 (19×142)
3 Al-Rahman 57 (19×3)
4 Al-Rahiim 114 (19×6)
(11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.
(12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.
(13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.
Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.
Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah
(14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).
Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandunghuruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya
Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19
Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:
· Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun
· Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).
· Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.
· Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.
Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).
· Syahadat
Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.
· Shalat
Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.
· Puasa
Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:
- 2:183, 184, 185, 187, 196;
- 4:92; 5:89, 95;
- 33:35, 35; dan
- 58:4.
Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.
· Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah
Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.
Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:
Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).
Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat
- 2:189, 196, 197;
- 9:3; dan
- 22:27.
Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.
Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19x160.
Penutup
Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika. Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini. Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19). Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa). Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk. Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah. Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).
Catatan:
Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan, terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul. Saya hanya memberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada HALAMAN 1.
Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (dua hrurf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.
Oleh: Ali Said Daftar dacaan:
1. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.
2. Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org
3. Berbagai sumber di www.submission.org dan www.alquran-indonesia
telah dikutip oleh suranibisa.blogspot.com dari www.kabarislam.com
Langganan:
Postingan (Atom)




